Ada kesalahan di dalam gadget ini

Minggu, 14 Maret 2010

analisis mengenai " bagaimana mengetahui air tercemar atau tidak ? "

Analsia air termasuk ke dalam kimia analisa kuantitatif karena menentukan kadar suatu zat dalam campuran zat-zat lain. Prinsip analisa air yang digunakan adalah prinsip titrasi dan metode yang digunakan adalah metode indikator warna dan secara umum termasuk ke dalam analisa volumetrik.

Air yang dijumpai dalam kehidupan sehari-hari tidak pernah ditemukan dalam keadaan murni. Biasanya air tersebut mengandung zat-zat kimia dalam kadar tertentu, baik zat-zat kimia anorganik maupun zat-zat kimia organik. Apabila kandungan zat-zat kimia tersebut terlalu banyak jumlahnya didalam air, air tersebut dapat menjadi sumber bencana yang dapat merugikan kelangsungan hidup semua makhluk sekitarnya.

Kini dengan adanya pencemaran-pencemaran air oleh pabrik maupun rumah tangga, kandungan zat-zat kimia di dalam air semakin meningkat dan pada akhirnya kualitas air tersebut menurun. Oleh karena itu, diperlukan analisa air untuk menentukan dan menghitung zat-zat kimia yang terkandung di dalam air sehingga dapat diketahui air tersebut membahayakan kesehatan, layak tidaknya dikonsumsi maupun sudah tercemar atau belum. Analisa pencemaran air tersebut dapat di lihat dari syarat syarat air besih, yang meliputi Persyaratan kualitatif, Persyaratan kuantitatif, dan Syarat kontinuitas.

A. Persyaratan Kualitatif

Syarat kualitatif adalah persyaratan yang menggambarkan kualitas dari air baku ( air bersih ). Persyaratan ini meliputi syarat fisik, Kimia, Biologis dan Radiologis.

  1. Syarat Syarat Fisik

Persyaratan fisik untuk air minum yang sehat adalah bening (tak berwarna), tidak berasa, suhu dibawah suhu udara diluarnya.Cara mengenal air yang memenuhi persyaratan fisik ini tidak sukar.

a. Kejernihan

Kualitas estetika air tergantung pada kejernihannya dan karakteristik alirannya. Ada 2 macam warna pada air yaitu apparent color (suspensi zat organik) dan true color (suspensi zat anorganik ) . Air jernih dan murni sangat diperlukan aliran air yang deras dianggap lebih menarik secara visual daripada air yang statis dan lambat alirannya. Aliran air yang deras dapat sedikit mengatasi efek buruk akibat turbiditas dan bau. Debu, sedimen dan algae dapat mengurangi kualitas air secara fisik. Selain itu, keputusan kualitatif juga harus diambil terhadap kejernihan air, yaitu jernih, moderat, agak keruh atau keruh.

b. Rasa

Dalam air yang bersih ( fisik ) tidak terdapat seperti rasa asin, manis,pahit dan asam. Begitu pula terhadap bau. Air dapat dikatakan bersih secaa fisik apabila air tersebut tidak mengeluarakan bau, seperti bau amis, busuk, dan sebagainya.

c. Turbiditas

Turbiditas merupakan suatu ukuran yang menyatakan sampai seberapa jauh cahaya mampu menembus air , dimana cahaya yang menembus air akan mengalami “pemantulan” oleh bahan-bahan tersuspensi dan bahan koloidal. Satuannya adalah Jackson Turbidity Unit (JTU), dimana 1 JTU sama dengan turbiditas yang disebabkan oleh 1 mg/l SiO2 dalam air. Dalam danau atau perairan lainnya yang relatif tenang, turbiditas terutama disebabkan oleh bahan koloidan dan bahan-bahan hakus yang terdispersi dalam air. Dalam sungai yang mengalir , turbiditas terutama disebabkan oleh bahan-bahan kasar yang terdispersi. Turbiditas penting bagi kualitas air permukaan, terutama berkenaan dengan pertimbangan estetika, daya filter, dan disinfeksi. Pada umumnya kalau turbiditas meningkat, nilai fisik menurun, filtrasi air lebih sulit dan mahal, dan efektivitas desinfeksi berkurang. Turbiditas dalam perairan mungkin terjadi karena material alamiah, atau akibat aktivitas proyek, pembuangan limbah, dan operasi pengerukan.

d. Tempratur

Temperatur merupakan derajat panas atau dinginnya air yang diukur pada sekala definit seperti derajat celsius (0C) atau derajat Fahrenheit (0F). Temperatur air merupakan regulator utama proses-proses alamiah di dalam lingkungan akuatik. Ia dapat mengendalikan fungsi fisiologis organisme dan berperan secara langsung atau tidak langsung bersama dengan komponen kualitas air lainnya mempengaruhi kualitas akuatik. Temperatur air mengendalikan spawning dan hatching, mengendalikan aktivitas, memacu atau menghambat pertumbuhan dan perkembangan; dapat menyebabkan kematian kalau air menjadi panas atau dingin sekali secara mendadak. Air yang lebih dingin lazimnya menghambat perkembangan; air yang lebih panas umumnya mempercepat aktivitas. Temperatur air juga mempengaruhi berbagai macam reaksi fisika dan kimiawi di dalam lingkungan akuatik.

  1. Syarat Kimiawi

Air Baku (air bersih layak minum ) tidak boleh mengandung bahan bahan kimia dalam jumlah yang melampaui batas. Beberapa persyaratan kimia tersebut antara lain :

a. pH

pH suatu larutan mencerminkan aktivitas kation hidrogennya, dan dinyatakan sebagai logaritma negatif dari aktivitas kation hidrogen dalam mole per liter pada suhu tertentu. Istilah pH lazimnya digunakan untuk menyatakan intensitas kondisi asam atau alkalin suatu larutan. Kalau pH antara 1 dan 7, ini merupakan kisaran asam, dan kisaran alkalin adalah pH 7 – 14. pH air permukaan air biasanya berkisar antara 6.5 – 9.0, pada kisaran tersebut air bersir masih layak untuk diminum (dimasak ). penentuan pH sangat berpengaruh terhadap korosi ( pengaratan ) yang biasanya terjadi pada pipa distribusi air.

b. Salinitas ( zat padat total )

Salinitas didefinisikan sebagai total padatan dalam air setelah semua karbonat dikonversi menjadi oksida, semua bromida dan iodida diganti dengan klorida, dan semua bahan organik telah dioksidasi. Satuan untuk salinitas lazimnya adalah g/kg atau satu per seribu. Salinitas merupakan peubah penting dalam perairan pantai dan estuarine, dan perubahan salinitas dapat menyebabkan perubahan kualitas ekosistem akuatik, terutama ditinjau dari tipe-tipe dan kelimpahan organisme. Salinitas harus digunakan sebagai parameter pendugaan dampak untuk semua proyek pengembangan sumberdaya air yang berhubungan dengan perairan pantai dan estuaria. Biasanya bahan yang tertinggal sebagai residu pada penguapan dan pengeringan terjadi pada suhu 103 – 105 0C.

c. Oksigen Terlarut

Oksigen terlarut mungkin merupakan parameter kualitas air yang paling umum digunakan. Kelarutan oksigen atmosfer dalam air segar/tawar berkisar dari 14.6 mg/liter pada suhu 0 0C hingga 7.1 mg/liter pada suhu 35 0C pada tekanan satu atmosfer. Rendahnya kandungan oksigen terlarut dalam air berpengaruh buruk terhadap kehidupan akuatik dan kalau tidak ada sama sekali oksigen terlarut mengakibatkan munculnya kondisi anaerobik dengan bau busuk dan permasalahan estetika. Di bawah 3 mg/liter, penurunan lebih lanjut hanya penting dalam kaitannya dengan munculnya kondisi anaerobik lokal. Kerusakan utama terhadap kehidupan akuatik telah terjadi pada kondisi seperti ini. Di atas 6 mg/liter, keuntungan utama dari penambahan oksigen terlarut adalah sebagai cadangan atau penyangga untuk menghadapi “shock load” buangan limbah yang membutuhkan banyak oksigen.

d. BOD

BOD didefinisikan sebagai jumlah oksigen (mg/l) yang diperlukan oleh bakteri untuk mendekomposisikan bahan organik (hingga stabil) pada kondisi aerobik. Kondisi uji yang tipikal adalah inkubasi lima hari pada suhu 20 0C. Karena BOD merupakan ukuran tidak langsung dari jumlah bahan organik yang dapat didekomposisi secara biologis, maka ini dapat menjadi indikator jumlah oksigen terlarut yang akan digunakan (hilang dari air) selama asimilasi biologis polutan organik secara alamiah. Uji BOD merupakan salah satu uji yang lazim digunakan dalam evaluasi kualitas air.

e. Suspended Solid

Suspended Solid ( SS ) adalah padatan yang terkandung dalam air dan bukan merupakan larutan, bahan ini dibedakan dari padatan terlarut dengan jalan uji filtrasi laboratorium. Satuannya adalah mg/l. SS terdiri atas komponen settleable, floating dan non-soluble (suspensi koloidal). SS lazimnya mengandung senyawa organik dan anorganik. Satu ciri dari SS adalah berkaitan dengan karakteristik turbiditas. SS sangat penting karena pengaruhnya terhadap kualitas estetika, filtrasi (penjernihan) dan desinfeksi; dan potensial dampaknya terhadap ekosistem akuatik. Pada umumnya air yang mengandung banyak SS kurang bagus ditinjau dari sudut pandang estetika, lebih sulit dan mahal untuk menjernihkannya, dan memerlukan lebih banyak bahan kimia untuk dis-infeksinya. SS yang berlebihan dapat membahayakan ikan dan jasad akuatik lainnya melalui penyelimutan insang, reduksi radiasi matahari, dan selanjutnya akan berpengaruh pada rantai makanan alami.

Konsentrasi SS (mg/l) Kategori Kualitas Lingkungan
4 Ekselen
10 Baik
15 Cukupan
20 Jelek
35 Sangat jelek

f. Nitrogen

Nitrogen merupakan unsur hara esensial yang diperlukan untuk melestarikan kehidupan akuatik. Biasanya diukur dengan satuan mg/liter. Secara spesifik, nitrogen anorganik dalam bentuk nitrat dan amonia tersedia untuk masuk ke dalam siklus rantai makanan akuatik. Nitrogen organik menjadi tersedia setelah mengalami konversi menjadi bentuk anorganik oleh aktivitas bakteri. Limbah industri, limbah domestik dan residu pupuk dalam air limpasan dari lahan pertanian merupakan sumber utama nitrogen anorganik dalam perairan.

g. Senyawa Toksik

Berbagai macam senyawa toksik berada dalam lingkungan akuatik. Limbah yang mengandung logam berat (Hg, Cu, Ag, Pb, Ni, Co, As, Cd, Cr, dan lainnya) sendiri-sendiri atau campurannya hingga konsentrasi tertentu dapat bersifat toksik bagi manusia dan organisme lain, sehingga mempunyai dampak yang serius terhadap ekosistem. Senyawa toksik lainnya termasuk pestisida, senyawa ammonia, sianida, sulfida, fluorida, dan senyawa-senyawa khlor organik.

Uji bio-essay dapat digunakan untuk menyatakan konsentrasi dalam mg/l pada saat mana senyawa toksik tidak menyebabkan gangguan pada organisme uji. Akan tetapi, efek jangka panjang dari senyawa toksik mungkin menimbulkan gangguan yang lebih berbahaya, seperti pengkerdilan pertumbuhan, penurunan fertilitas, penyimpangan fisiologis, dan pola perilaku aneh; dan ini semua dapat menyebabkan gangguan yang lebih berbahayadibandingkan dengan sekedar ekeberadaan spesies. Demikian juga, magnifikasi biologis dan penyimpanan residu bahan pencemar yang toksik dalam kehidupan dapat mengakibatkan dampak serius. Karena alasan ini, senyawa toksik dapat dideteksi dalam perairan alami dengan metode canggih berupa analisis kualitas air. Dan ini dapat mengakibatkan air tidak layak bagi perbanyakan kehidupan manusia dan organisme akuatik.

h. Zat Organik

1. Alam : Tumbuh – tumbuhan, sellolusa, gula dan pati

2. sintesis : proses industri

3. fermentasi : alcohol dan asam

i. CO­2 Agresif

Co2 yang terdapat di air berasal dari udara dan hasil penguraian zat organik. Menurut bentuknya CO2 dibedakan dalam :

  1. CO2 bebas : banyaknya CO2 dalam air
  2. CO2 kesetimbangan : CO2 yang dalam air setimbang dengan HCO3
  3. CO2 agresif : CO2 yang dapat masuk bangunan, perpipaan dalam distribusi air.

j. Kesadahan Total

Kesadahan adalah sifat air yang disebabkan oleh air karena adanya ion-ion (kation) logam valensi. Kesadahan Total kesadahan yang disebabkan adanya ion Ca2+ dan Mg2+ secara bersama sama.

k. Kalsium

Fungsi kalsium pada air bersih dalam batas tertentu dapat berfungsi sebagai penunjang pertumbuhan tulang dan gigi.

l. Besi dan Mangan

Besi adalah logam yang menghambat proses disinfeksi. Mangan dan besi yang berlebihan menyebabkan warna air menjadi keruh.

m. Tembaga ( Cu )

Kadar Cu yang berlebihan akan menyebabkan rasa tidak enak pada lidah dan dapat menimbulkan kerusakan pada hati.

n. Seng ( Zn )

Kelebihan kadar Zn dalam air minum menyebabkan rasa pahit.

o. Chlorida ( Cl )

Kadar Cl yang berlebihan akan menyebabkan rasa asin dan korosif pada logam.

p. Flourida ( F )

kelebihan kadar flourida pada air akan menyebakan kerusakan pada gigi ( carries gigi ).

q. Nitrit

kekurangan Nitritdapat menyebabkan methamoglobinemia terutama pada bayi.

Bahan-bahan atau zat kimia yang terdapat dalam air yang IDEAL antara lain sebagai berikut :

——————————————————————-

Jenis Bahan Kadar yang Dibenarkan (mg/liter)

——————————————————————-

Fluor (F) 1-1,5

Chlor (Cl) 250

Arsen (As) 0,05

Tembaga (Cu) 1,0

Besi (Fe) 0,3

Zat organik 10

Ph (keasaman) 6,5-9,0

CO2 0

——————————————————————-

  1. Syarat Bakteriologis atau Mikrobiologis

Air untuk keperluan minum yang sehat harus bebas dari segala bakteri, terutama bakteri patogen. Cara untuk mengetahui apakah air minum terkontaminasi oleh bakteri patogen adalah dengan memeriksa sampel (contoh) air tersebut. Dan bila dari pemeriksaan 100 cc air terdapat kurang dari 4 bakteri E. coli maka air tersebut sudah memenuhi syarat kesehatan.

Air dapat berfungsi sebagai kendaraan untuk menyebarkan penyakit. Adanya organisme coliform dalam air dianggap sebagai bukti kontaminasi karena organisme ini asal-usulnya dari dalam saluran pencernaan manusia atau hewan berdarah panas lainnya. Perlunya uji coliform terhadap suplai air menjadi semakin kurang penting karena teknologi pengolahan air bersih semakin efektif mampu melenyapkan bakteri penyebab penyakit melalui perlakuan desinfeksi. Akan tetapi, uji coliform terus menjadi tetap penting karena pemanfaatan air untuk jasa rekreasional melibatkan aktivitas body-contact, dan karena implikasi bahwa penyakit virus dapat ditularkan melalui kontaminasi tinja dalam suplai air. Jalur tidak langsung seperti kontaminasi bahan makanan dengan air irigasi yang tercemar tinja, dan akumulasi kontaminan oleh oyster, clams, dan bangsa siput dari perairan pantai yang tercemar tinja, terus menjadi masalah yang menarik perhatian.

  1. Syarat Radiologis

Air minum tidak boleh mengandung zat yang menghasilakan bahan bahan yang mengandung radioakti, seperti sinar alfa, beta dan gamma.

Parameter Air Bersih secara Radiologi :
1. Konduktivitas atau daya hantar ( panas )
2. Pesistivitas
3. PTT atau TDS (Kemampuan air bersih untuk menghantarkan arus listrik)

B. Persyaratan Kuantitatif

Persyaratan kuantitatif dalam penyediaan air bersih adalah ditinjau dari banyaknya air baku yang tersedia. Artinya, air tersebut bernilai guna demi pemenuhan pemakainya. Dalam hal ini, jumlah air yang dibutuhkan sanagt tergantung pada tingkat kemajuan teknologi dan social ekonomi masyarakat setempat. Sebagai contoh Negara negara yang telah maju memerlukan air bersih yang lebih banyak dibandingkan dengan masyarakat di Negara Negara berkembang.

C. Persyaratan Kontinuitas

Persyaratan kontinuitas ini sangat erat hubungannya dengan kuantitas air yang tersedia yaitu air baku yang ada di alam. Arti kontinuitas disini adalah bahwa air baku untuk air bersih tersebut dapat diambil terus menerus dengan fluktuasi debit yang relative tetap, baik pada saat musim kemarau maupun musim hujan.


Selain hal-hal yang telah dijelaskan diatas adapula beberapa car yang dapat dilakukan dalam menganalisis air mengalami suatu pencemaran,yang tentunya analisis ini akn membantu dalm mengidentifikasi suatu air mengalami sebuah pencemaran yang membahayakan atukah tidak,yaitu:

Secara Langsung

Yaitu dengan mengidentifikasi secara langsung adanya suatu pencemaran melalui penggunaan panca indra,misalkan melalui rasa,bau,kekeruhan,ataupun dengan melihat pertumbuhan tanaman pada air tersebut.

Secara tidak langsung

Yaitu dengan melihat keluhan penduduk dari pengkonsumsian air yang sebelumnya dicurigai mengalami sebuah pencemaran,seperti misalnya keluhan penduduk setelah mengkonsumsi air tersebut mengalami sakit perut,ataupun keluhan-keluhan lain yang dapat mengindikasikan bahwa telah terjadi pencemaran pada air tersebut.

sumber kutipan :

Indah Nirtha..Universitas Lambung Mangkurat Materi perkuliahan PTL(Pengantar Teknik Lingkungan) UNLAM 2009 Pencemaran dan Analisis Pencemaran Lingkungan.

http://abrar4lesson4tutorial4ever.wordpress.com/teknik-lingkungan

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar